Editorial: Prof. Azra dan Masa Depan Peradaban Islam

UIII.AC.ID, DEPOK – Wafatnya Prof Azyumardi Azra di Malaysia kemarin memang mengejutkan. Pasalnya, tidak ada informasi sebelumnya bahwa ia menderita penyakit serius. Meninggal dunia saat melakukan perjalanan ke Malaysia untuk menjadi pembicara pada International Conference on Islamic Cosmopolitanism, di Selangor, Malaysia, Sabtu (17/9/2022). Rumah sakit di Kuala Lumpur mengatakan dia mengalami serangan jantung. Sebelum ini, dia sebenarnya sehat dan dalam kondisi stabil.

Bagi banyak orang itu jelas merupakan kehilangan yang menghancurkan, Azra adalah seorang ulama terkemuka dan dia telah menunjukkan dirinya sebagai orang yang setia menjalankan tugas hidupnya sebagai seorang pemikir sejati. Terbang jauh ke Malaysia, ia ingin menyumbangkan pemikirannya tentang masa depan peradaban Islam. Dia adalah orang yang tepat untuk membicarakan hal ini. Kekuatan pemikirannya adalah menggabungkan sudut pandang historis dengan perspektif masa depan.

Prof Azra dididik secara akademis sebagai sejarawan. Menyelesaikan studi doktoralnya di Columbia University, Amerika Serikat, pada tahun 1992 dengan disertasi tentang jaringan Ulama Melayu dan Timur Tengah dalam gerakan reformasi Islam. Namun dalam perkembangan karir intelektualnya ia melampaui bidang studi sejarah; dia berbicara semua hal yang menjadi perhatian umat Islam dan bangsa.

Tentu saja, ini bukan hanya kasus Azra. Banyak cendekiawan di Indonesia tampaknya dituntut untuk memahami segala hal, dan diundang ke berbagai forum dengan topik yang beragam. Ini mungkin tipikal negara berkembang seperti Indonesia, di mana seorang ilmuwan tidak hanya duduk di depan seorang siswa mengajar di kelas tetapi juga terlibat dalam aksi masyarakat; menulis di media massa (tidak hanya di jurnal akademik); dan berbicara di berbagai forum. Kecuali bagi mereka yang memang sejak awal memilih untuk sekadar menjadi akademisi.

Tapi Azra bukan tipe ulama seperti itu. Ya, dia juga seorang akademisi, bahkan dia dikenal sebagai dosen yang sangat disiplin dan tegas dengan kehadiran mahasiswa dan mata kuliah. Azra juga seorang akademisi dengan jiwa wirausaha. Selama menjadi Rektor UIN Jakarta, ia mengubah lingkungan kampus yang tradisional menjadi suasana kota modern dengan gedung-gedung megah seperti gedung apartemen. Di tangan Azra, kampus yang dulu bernama IAIN menjadi UIN. Dengan perubahan nama dan transformasi menjadi UIN, semua disiplin ilmu bisa diajarkan di sini, tidak hanya ilmu agama.

Azra juga aktif mengembangkan wacana dan kegiatan lintas agama untuk memperkuat masyarakat sipil. Karena Azra sangat percaya bahwa kebangkitan peradaban Islam di masa depan hanya mungkin jika organisasi masyarakat sipil bekerja sama untuk memperkuat demokrasi dan sosial politik yang harmonis dan damai.

Itulah salah satu poin yang ditulisnya dalam makalah yang seharusnya dipresentasikan pada konferensi di Malaysia pekan lalu. Azra berbicara tentang masa depan peradaban Islam di tengah mundurnya peradaban Barat. Namun, menurut dia, umat Islam belum mampu memanfaatkan peluang untuk maju di tengah keterpurukan. Bahkan, kemajuan ini dicapai oleh China, yang saat ini mampu bersaing dengan Barat.

Bagi Azra, minimnya kemajuan peradaban Islam saat ini adalah karena umat Islam tidak memahami sejarah. Pengetahuan sejarah umat Islam hanya tentang pemuliaan Islam masa lalu. Meski tidak salah, justru akan menjadi beban psikologis. Dia menegaskan, “Banyak Muslim tidak belajar sejarah, belajar dari sejarah, mengambil pelajaran dari sejarah, dan menjadikan sejarah sebagai panduan untuk masa depan.”

Dengan demikian, pandangan Azra tentang masa depan sangat jelas. Ini mengingatkan pada kata-kata Winston S. Churchill: “Semakin jauh ke belakang Anda dapat melihat, semakin jauh ke depan Anda akan melihat.” Pandangan Azra juga senada dengan intelektual besar sebelumnya, Nurcholish Madjid, yang juga senior Azra di UIN Jakarta. Madjid kerap mengkritisi pemuliaan umat Islam terhadap masa lalu. Dalam hal ini, menurutnya, sejarah Islam masa lalu tidak ideal. Banyak tragedi, konflik, dan pertumpahan darah di kalangan umat Islam. Madjid, serta Azra, mengagumi aspek-aspek tertentu dari peradaban Islam masa lalu, terutama ilmu pengetahuan, seni, filsafat, dan peradaban toleransi terhadap orang-orang non-Muslim. Itulah yang sekarang hilang dari perspektif umat Islam yang fokus pada penegakan syariah formal. Madjid dan Azra sama-sama menolak formalisasi Syariah karena dianggap sebagai distorsi Islam.

Mereka berdua juga memiliki kepedulian yang sama dalam membangun peradaban Islam di kawasan Melayu. Madjid pernah berkata bahwa Islam telah masuk ke Nusantara pada delapan abad yang lalu, namun peradaban apa yang berhasil dibangun oleh umat Islam di wilayah ini? Islam hanya membutuhkan waktu kurang dari satu abad untuk berhasil membangun peradaban yang begitu megah di Baghdad. Dan hanya butuh seratus tahun untuk menjadi pusat peradaban besar di Spanyol. Tetapi mengapa umat Islam di wilayah Melayu begitu lama berkembang tetapi belum berhasil membangun peradaban yang membanggakan? Sebuah pertanyaan retoris.

Inilah yang selalu disuarakan dan diperjuangkan Prof Azyumardi Azra, seorang pemikir besar, intelektual yang produktif. Ia sangat berwibawa dalam berbicara tentang peradaban Islam Melayu karena disertasinya tentang itu. Ia juga diakui dunia sebagai intelektual berkaliber internasional yang berhasil membuat perbedaan dalam Islam Indonesia yang lebih moderat dan terbuka. Azra pasti salah satu orang yang paling berbahagia dengan berdirinya UIII, karena kampus ini didirikan untuk melanjutkan visi beliau dan para cendekiawan muslim sebelumnya dalam menjadikan wilayah Melayu sebagai pusat peradaban di dunia Islam. Selamat jalan Prof Azra, karyamu tak lekang oleh waktu, namamu abadi. (AG)