Pada tanggal 18 September, sarjana Islam terkenal Indonesia Profesor Azyumardi Azra meninggal mendadak karena serangan jantung. Dia berada di Kuala Lumpur, di mana dia akan berpartisipasi dalam sebuah seminar tentang “Islam kosmopolitan”, melakukan apa yang sangat dia sukai – berbagi pengetahuannya yang mendalam tentang Islam dan memperdalam pemahaman melalui debat dan diskusi.
Azra lahir di Padang, Sumatera Barat, 1955. Ia menempuh pendidikan di Columbia University, New York, dan meraih gelar PhD pada 1992. Tesisnya berjudul “Transmisi Reformisme Islam ke Indonesia: Jaringan Ulama Indonesia Timur Tengah dan Melayu pada Abad Ketujuh Belas dan Delapan Belas”. Buku ini diterbitkan dalam bahasa Indonesia sebagai Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII (1994), dan dalam bahasa Inggris sebagai The Origin of Islamic Reformism in Southeast Asia (2004). Karya ini terbukti mani, akhirnya mengilhami badan baru bekerja pada beasiswa sarjana Muslim Asia Tenggara dan hubungan mereka dengan tradisi Timur Tengah.
Namun ketika pertama kali kembali ke Institut Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta pada tahun 1992, Azra menemukan Islam di Asia Tenggara kurang dipelajari. Oleh karena itu, ia mengemban misi untuk meng-upgrade jurnal Studia Islamika unggulan universitas tersebut. Ini menjadi bagian penting dari tujuannya yang lebih luas untuk membantu orang Asia Tenggara untuk lebih memahami dan mendukung Islam seperti yang dipraktikkan di wilayah mereka.
Di bawah kepemimpinan Azra yang tak kenal lelah, Studia Islamika menjelma menjadi jurnal internasional yang terbit dalam bahasa Indonesia, Inggris, dan Arab. Segera menjadi jurnal terkemuka dan terindeks untuk studi Islam di Asia Tenggara. Jurnal Indonesia lainnya telah mengikuti jejaknya, tetapi Studia Islamika adalah yang pertama.
Namun, Azra terkenal karena mempelopori penemuan kembali Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Indonesia. Dari lembaga yang hanya mengajarkan mata pelajaran agama, mereka menjadi universitas (dikenal sebagai UIN), di mana ilmu-ilmu keislaman dan umum (sekuler) ditawarkan. Transformasi ini ia capai pertama kali di universitasnya sendiri, Syarif Hidayatullah, pada tahun 2002. Sering bekerja, berdebat, dan membujuk hingga larut malam, ia memajukan visinya tentang pendidikan baru, modern, global bagi umat Islam Indonesia, meskipun mendapat banyak tentangan, baik di kampus. dan seterusnya.
Azra bersikeras, misalnya, mendirikan fakultas kedokteran di universitas baru, serta fakultas baru psikologi, ekonomi dan bisnis, ilmu pengetahuan dan teknologi, dan ilmu sosial dan politik, untuk menandai perubahan nyata ke arahnya. Dia punya caranya sendiri, dan sekarang sebagian besar lembaga pendidikan tinggi Islam lainnya telah mulai mengajarkan disiplin ilmu ini juga. Bahkan, kesuksesan Azra di Jakarta segera dicontoh oleh IAIN-IAIN lain di Indonesia, memicu gelombang perubahan yang berarti negeri ini kini memiliki 29 UIN, sebuah penghargaan luar biasa atas visi dan komitmennya.
Banyak yang bisa dikatakan tentang kontribusi Azra terhadap pendidikan Islam dan mobilisasi umat Islam di Indonesia. Dia berpendapat, misalnya, bahwa umat Islam harus mengembangkan sekolah luar biasa yang mempelajari masalah saat ini, seperti lingkungan dan pemanfaatan sumber daya alam yang berkelanjutan, dan bukan hanya dari perspektif agama. Dia melihat ini sebagai hal yang penting jika umat Islam ingin mencapai hasil sosial, ekonomi dan politik yang lebih baik.
Seorang intelektual publik sejati, Azra juga menerbitkan dan berbicara secara luas – baik di Indonesia maupun di luar negeri – tentang kompatibilitas Islam dan demokrasi. Dia terus-menerus menekankan perlunya berpikir tentang “kualitas Muslim” yang berpartisipasi dalam urusan global, dengan alasan bahwa Muslim di seluruh dunia harus memberikan stabilitas politik bagi semua orang di negara mereka melalui demokrasi. Dengan cara ini, Azra berpendapat, umat Islam benar-benar dapat menerapkan ajaran bahwa Islam adalah rahmat bagi alam semesta (rahmatan lil’alamin).
Azra juga dikenal luas karena komitmennya untuk mempromosikan toleransi beragama. Dia mendukung ideologi negara, Pancasila, sebagai cara untuk menyatukan komunitas Indonesia yang beragam, dan secara terbuka mengecam Muslim ekstremis atas perlakuan mereka terhadap non-Muslim. Sebagai rektor Syarif Hidayatullah, ia secara kontroversial mendorong siswa non-Muslim untuk belajar di sana, dan mewajibkan pendidikan kewarganegaraan, untuk memastikan semua siswa terbiasa dengan konsep demokrasi, hak asasi manusia, dan nilai-nilai kewarganegaraan.
Ini adalah beberapa pesan yang Azra rencanakan untuk disampaikan pada pertemuan di Kuala Lumpur, seperti yang dia lakukan di banyak pertemuan lainnya, di banyak tempat berbeda di seluruh dunia, selama bertahun-tahun.
Bagi kami yang memiliki hak istimewa untuk bekerja dengan pria luar biasa ini, dia adalah “Kak Edi” (Kakak Edi) – seorang pemimpin, tetapi juga seorang teman. Kematiannya yang tiba-tiba merupakan kehilangan besar bagi kami, seperti juga bagi pendidikan tinggi dan komunitas ilmiah Indonesia. Tetapi rasa hormat global yang diperoleh Azra melalui karyanya berarti bahwa kehilangannya akan bergema di seluruh dunia.
Selamat Jalan Prof Azra, sahabat, guru, dan mentor yang menginspirasi.
Prof. Jamhari Makruf, Vice Rector for Research, Cooperation and Community Engagement
Source: Indonesia at Melbourne







Leave a Reply