Al-Qur’an merupakan firman atau kalam Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw. melalui perantara malaikat Jibril secara berangsur-angsur dan turun dengan menggunakan bahasa Arab. Pembacanya mendapatkan pahala dan bacaannya bernilai ibadah. Al-Qur’an turun kepada nabi Muhammad tidak sekaligus dalam satu waktu, akan tetapi turun secara berangsur-angsur selama 22 tahun 2 bulan 22 hari. Tak jarang ia turun berkaitan dengan peristiwa atau kejadian tertentu pada masa tersebut.
Al-Qur’an mempunyai banyak manfaat dan juga keistimewaan untuk manusia dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. Salah satunya yaitu Al-Qur’an sebagai obat atau bisa juga disebut dengan as-Syifa’ yang artinya adalah penyembuh. Al-Qur’an sebagai obat atau penyembuh tidak hanya ketika manusia sakit secara fisik atau jasmani saja, akan tetapi juga dapat menjadi obat atau penyembuh yang ada dalam kalbu seperti ketika seseorang di dalam hatinya merasakan kecemasan, kegelisahan, dan kekhawatiran.
Surah ar-Ra’ad ayat 28 menegaskan “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram.”
Tafsir Jalalain menjelaskan penafsiran dari ayat tersebut ialah bahwa “Yaitu orang-orang yang beriman dan yang merasa tenang (tenteram) hati mereka dengan mengingat Allah (janji-Nya). Ingatlah, hanya dengan mengingat Allahlah hati menjadi tenteram (yaitu hati orang-orang yang beriman).”
Oleh karena itu, ketika seseorang atau manusia membaca Al-Qur’an, secara tidak langsung ayat-ayat kalam Allah yang dibacanya dapat mengobati dan menjadi obat atau penyembuh. Di sinilah faidah membaca Al-Qur’an dengan khusyuk dan sesuai dengan adab-adab membaca Al-Qur’an. Selain ia bernilai ibadah, ia juga menjadikan hati tenteram, tenang, dan terhindar dari rasa gelisah dan khawatir.
Kita dapat mengambil ibrah dari kisah Nabi Yunus as. Ketika berada di dalam perut ikan, beliau merenung dan memohon ampun kepada Allah. Dalam perut ikan yang amat gelap, Nabi Yunus mengingat Allah dengan berdoa kepada-Nya hingga Allah kemudian menyelamatkannya dari perut ikan tersebut. Allah memerintahkan mengutus ikan tersebut untuk memuntahkan nabi Yunus ke daratan.
Dengan demikian, dari kisah nabi Yunus tersebut terdapat sebuat ibrah yang dapat diambil, yaitu ketika dalam keadaan susah, sulit, kegelisahan, kekhawatiran maupun kecemasan, ingatlah kepada-Nya dan kembalilah kepada-Nya. Karena dengan mengingat kepada Allah akan mendapatkan ketenangan dan ketentraman hati.
Tatkala seseorang dalam keaadan kegelisahan maupun kekhawatiran, hendaklah ia kembali kepada Allah Sang Pencipta dan Tempat Kembali seluruh manusia.
Dunia ini semua hanya titipan dari Allah, yang pada waktunya semua akan kembali dan juga akan dimintai pertanggung jawaban, termasuk apa yang manusia rasakan baik rasa sedih, senang, bahagia, gelisah, kekhawatiran tersebut datangnya dari Allah. Hendaknya kita kembali kepada-Nya dengan cara mengingat-Nya dengan cara membaca ayat-ayat Al-Qur’an. Dengan mengembalikan kepada Allah dengan cara mengingat maupun mentadaburi kalam-kalam Allah, tidak hanya apa yang dirasakan akan sirna akan tetapi hal tersebut bernilai ibadah dan mendapatkan pahala bagi yang membacanya. Hal tersebut salah satu keistimewaan dari Al-Qur’an bagi yang membacanya.







Leave a Reply