Jejak Intelektual Zaman 1001 Malam (2)

studiislam.iD

Sains dan Teknologi dalam Genggaman Islam

Geliat pencarian pengetahuan di dunia Islam pada era keemasan sungguh sangat mengagumkan. Berbagai prestasi dan capaian ilmiah yang signifikan berhasil diukir oleh para ilmuwan Islam. Rekonstruksi tradisi ilmiah ini tentu tidak terlepas dari etos keilmuwan muslim yang mencintai kebenaran universal, kosmopolitanisme, non-parokialistik, inklusivisme, dan kritisisme. Paradigma seperti inilah yang mendukung progresivitas kemampuan apropriasi mereka hingga dapat melakukan sintesis kreatif sedemikian rupa yang terintegrasi dengan nilai-nilai Islam. Sintesis kreatif ini termanifestasi dalam berbagai macam inovasi ilmiah baik dalam bentuk teori maupun praktek seperti dalam bidang sains dan teknologi.

Walaupun pada dasarnya sains dan teknologi merupakan warisan kebudayaan klasik, namun pengembangan substansinya berada sepenuhnya di tangan ilmuwan Islam. Dengan mengintegrasikan pendekatan rasional-deduktif dan pendekatan eksperimental-empiristik yang menerapkan logika induktif, mereka berhasil menggagas teori-teori empiris yang  menjadi basis pengembangan keilmuan modern.

Perkembangan sains dan teknologi di era keemasan ini tidak serta merta ada begitu saja. Logika menghendaki adanya aktor yang memainkan peran vital dalam menciptakan terobosan-terobosan spektakuler dan melukiskan potret peradaban yang tinggi dan mumpuni. Al-Khawarizmi, Al-Biruni, Al-Battani, Jabir Ibnu Hayyan, Ibnu Haitsam, Al-Khazani, Ibnu Sina, Al-Razi, Ibnu Al-Nafis, Al-Jahiz, dan Al-Jazari adalah sederetan nama yang berkontribusi dalam perkembangan sains dan teknologi. Para ilmuwan muslim tersebut merupakan para pemikir handal yang berhasil merintis disiplin ilmu seperti matematika, astronomi, kimia, fisika, kedokteran, biologi, dan teknik. Sebagian besar dari mereka adalah polymath yang menguasai lebih dari satu disiplin ilmu, seperti Al-Khawarizmi yang menguasai matematika, astronomi, dan geografi. Ini menunjukkan bahwa para ilmuwan pada masa itu memiliki kecerdasan yang mengagumkan.

Robot di Zaman 1001 Malam

Teknologi merupakan bagian dari kebudayaan yang mengalami perkembangan yang progresif terutama di abad modern ini. Salah satu buah karya dari bidang ini adalah robot. Jika kita berbicara tentang asal-muasal robot dan siapa perintisnya, mungkin pikiran kita akan langsung tertuju pada Jepang. Mungkin Jepang maju dalam hal teknologi robot, tapi kita bisa serta merta menisbatkan perintisan robot kepada Jepang. Jauh sebelum Jepang mengenal robot, seorang ilmuwan jenius berhasil merintis dan mendesain robot. Dialah Badi’ Al-Zaman Al-Jazari, seorang insinyur muslim di zaman 1001 malam yang mampu menciptakan robot humanoid. Pencapaian itu mematahkan klaim Barat yang menyebut Leonardo da Vinci sebagai perintis teknologi robot. Robot Leonardo baru dirancang di atas kertas pada tahun 1478 M. Sedangkan Al-Jazari telah menciptakan beraneka ragam bentuk robot pada tahun 1206 M. Atas dasar inilah, Al-Jazari layak disebut sebagai Bapak Robot.

Al-Jazari merupakan perintis dalam bidang teknologi automata yaitu mesin yang dapat bergerak sendiri dengan menggunakan prinsip hidrolik. Teknologi automata yang dikembangkan Al-Jazari mencapai 50 jenis yang digambarkan secara gamblang dalam kitabnya Al-Jami’ Baina Al-Ilm Wal ‘Aml Al-Nafi’ Fi Shana’atil Hiyal.

Itulah segelintir ilmuwan Islam beserta masterpiece-nya yang ikut andil dalam akselerasi perkembangan ilmu pengetahuan. Masih ada ratusan ilmuwan muslim yang berkontribusi dalam progresivitas tradisi keilmuan. Namun, semua kegemilangan itu kini tinggal kenangan saja. Realitas menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan tidak lagi digenggam oleh orang Islam melainkan bangsa Barat semenjak masa Renaisans hingga sekarang. Lalu kapankah masa keemasan Islam itu akan terulang kembali? Wacana seperti ini hanya akan bersifat utopis jika umat Islam tidak mau bangkit dari keterpurukannya. Sejarah bukan hanya untuk dibaca, tapi untuk direfleksikan nilai-nilainya. Etos ilmuwan Islam di zaman 1001 malam yang  mencintai kebenaran universal, kritisisme, inklusivisme, dan kosmopolitanisme itulah yang hendaknya direvitalisasi dan direfleksikan oleh umat Islam saat ini hingga menjadi umat dengan mentalitas intelektual yang tinggi dan pada akhirnya dapat menggenggam kembali otoritas tradisi keilmuan yang telah lama hilang.

Referensi

Al-Hulwi, Abduh, Bazar Jabir. Al-Wafi fi Tarikh Al-Ulum ‘Inda Al-Arab. Beirut: Darul Fikri

As-Sirjani, Raghib. Sumbangan Peradaban Islam pada Dunia.Terj. Sonif. 2009. Kairo : Muassasah Iqra

Heriyanto,Husain. Menggali Nalar Saintifik Peradaban Islam. 2011. Jakarta: Mizan

Hitti, Philip K. History of Arab. 2002. New York: Palgrave Macmillan

Kartanegara, Mulyadhi. Mozaik Khazanah Islam. 2000. Jakarta: Paramadina

Laksono, Eko. Imperium III Zaman Kebangkitan Besar.2010. Jakarta: Hikmah

Nakosteen, Mehdi. Kontribusi Islam atas Dunia Intelektual Barat. Terj. Joko S. Kahhar. 1964. Colorado: University of Colorado Press

Ruslan, Heri. Khazanah; Menelisik Warisan Peradaban Islam dari Apotek hingga Komputer Analog. 2010. Jakarta: Republika

Sjahbana, Sultan Takdir Ali. Sumbangan Islam kepada Kebudayaan Dunia. Dalam Lembaga Kebajikan Islam Samanhudi,ed. Sumbangan Islam kepada Peradaban Dunia: Seminar Islam dan Kebudayaan Melayu  di Universiti Kebangsaan Malaysia, 26 Juli 1976. Jakarta: Pustaka Biru

Husni Mulyawati, S.S.I
Husni Mulyawati, S.S.I, Mahasiswa S2 Fakultas Islamic Studies Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII). Dia adalah sarjana Studi Islam dari Fakultas Dirasat Islamiyah di UIN Jakarta... Dia tertarik pada Islam digital, gender, budaya pop, dan pemuda...