Pergumulan pencarian Tuhan selalu hadir dalam tiap sejarah umat manusia. Hal ini diungkapkan oleh Plutarch, seorang sejarawan Yunani:
“Adalah mungkin bagi Anda untuk menjumpai kota-kota yang tidak memiliki istana, raja, kekayaan, etika, dan tempat-tempat pertunjukan. Namun, tidak ada seorang pun yang dapat menemukan sebuah kota yang tidak memiliki sesembahan atau kota yang tidak mengajarkan penyembahan kepada para penduduknya.” (Zaprulkhan, 2016, 91)
Meski begitu, sebagian kalangan menolak eksistensi Tuhan karena beragam faktor. Bisa jadi kebingungan dari banyaknya agama, ketidaktahuan, kekecewaan, dan anggapan bahwa agama dan Tuhan adalah ilusi dan pelarian manusia. Karena itu, beberapa kalangan agamawan mengemukakan argumentasi eksistensi Tuhan. Dalam artikel ini, kita akan membahas 2 argumentasi.
- Argumentasi ontologis
Ontologi membahas hakikat sesuatu yang ada. Dalam konteks argumentasi eksistensi Tuhan, argumentasi ini bertitik tolak pada ontologi Tuhan itu sendiri. Artinya, pembahasan ini berfokus pada hakikat apa yang disebut sebagai “Tuhan”. Argumen ontologis pertama kali dikemukakan oleh St. Anselmus (1033-1109 M). Anselmus mengemukakan bahwa definisi “tuhan” ialah suatu “wujud” yang tidak dapat dipikirkan sesuatu yang lebih besar daripadanya (Mackie, 1982, 50). Dengan kata lain, bagi Anselmus Tuhan adalah “ada” tertinggi yang dapat dipikirkan manusia. Allah adalah puncak pikiran manusia yang dapat dipikirkan. Anselmus berargumen bahwa sesuatu yang dapat dipahami tidak hanya eksis dalam pikiran, melainkan juga dalam realita. Karena itu, orang bodoh akan berkontradiksi dalam pikirannya; ia akan mengkorespondensi wujud tersebut dalam realita.
Akan tetapi selanjutnya akan timbul sebuah kritik: sesuatu yang dipikirkan belum tentu benar-benar nyata dalam realita. Secara prinsip, dari memikirkan sesuatu tidak pernah dapat ditarik kesimpulan ke eksistensi nyata yang dipikirkan itu. Dari analisis sebuah konsep, tak pernah diketahui apakah yang dikonsepsi itu benar-benar nyata atau tidak. Namun jika ditelaah lebih lanjut, konsep bukanlah hanya sebuah pengertian abstrak yang dapat didefinisikan, melainkan juga sebuah usaha untuk memahami sesuatu dan mengungkapkan apa yang ada dalam realita.
Sebab pikiran manusia berakar pada pengalamannya, maka konsep manusia mengenai sesuatu pasti juga berasal dari pengalaman, termasuk konsep tentang Tuhan. Manusia mengalami suatu pengalaman tentang ketakterhinggaan yang mendorongnya merumuskan konsep ‘suatu wujud yang sesuatu lebih besar daripadanya tidak dapat dipikirkan’ yang disebut sebagai Tuhan.
Lebih lanjut, bagi Anselmus sesuatu yang bereksistensi tentu lebih sempurna daripada yang tidak bereksistensi. Oleh karena itu, wujud sempurna yang disematkan kepada Tuhan harus benar-benar bereksistensi sehingga dengan sendirinya Tuhan harus bereksistensi. Jika Tuhan tidak bereksistensi, tentu ia akan menjadi tak sempurna.
- Argumen Kosmologis
Argumen ini pertama kali dikemukakan oleh Aristoteles dengan mengidentifikasi Tuhan sebagai Penggerak Yang Tidak Digerakkan, The Unmoved Mover. Ide ini kemudian dielaborasi oleh al-Kindi, Ibn Sina, dan Thomas Aquinas. Ide sentral dalam argumen kosmologis ialah adanya rangkaian hukum sebab-akibat (kausalitas) pada alam semesta yang harus berakhir pada sebab pertama yang disebut Tuhan. Secara singkat, pembuktian eksistensi Tuhan didasarkan atas alam semesta yang diasalkan dan tergantung pada sesuatu di luar dirinya.
Secara agak panjang, argumen kosmologis bertitik tolak dari bahwa segala sesuatu di alam semesta tidak memiliki kuasa dari dirinya sendiri untuk bereksistensi. Eksistensi sesuatu berasal dan bergantung pada sesuatu di luar dirinya (liyan). Liyan itulah yang menyebabkan keberadaan eksistensi sesuatu. Seperti contoh bahwa seorang manusia berasal dan bergantung pada eksistensi orangtuanya; sang orangtua bergantung pada kakek-nenek, begitu seterusnya. Ketergantungan eksistensi ini tidak mungkin tanpa akhir. Pasti ada sesuatu yang yang eksistensinya ada pada dirinya sendiri dan tidak bergantung pada sesuatu yang lain. Jika tidak demikian, maka tidak ada penjelasan dari eksistensi segala sesuatu (Mawson, 2005, 153). Pasti ada suatu pangkal eksistensi. Pangkal eksistensi inilah yang disebut sebagai Tuhan.
Argumen kosmologis dapat dijelaskan dengan penjelasan lain meskipun nampak mirip. Dalam pemikiran Thomas Aquinas, pergerakan adalah transformasi potensial menjadi aktual. Segala sesuatu yang bergerak niscaya memiliki potensi bergerak yang kemudian potensi ini diaktualisasikan menjadi sebuah gerakan. Potensi gerak yang dimiliki suatu benda tidak mungkin diaktualisasikan oleh benda itu sendiri. Tidak mungkin secara bersamaan suatu benda bersifat potensial dan aktual. Aktualisasi potensi hanya mungkin dilakukan oleh sesuatu di luar dirinya. Semua ini terjadi secara terus menerus dan beruntun kepada sesuatu aktualisator sebelumnya. Akan tetapi, bagi Thomas, kemunduran tak terbatas tidak dapat dimengerti. Pasti ada pangkal dari segala gerakan tersebut: Penggerak yang secara aktual bergerak dengan sendirinya dan tidak memiliki penggerak. Pangkal inilah yang disebut sebagai Tuhan.










Leave a Reply