Sebagai bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat, Fakultas Studi Islam Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) menyelenggarakan Workshop dan Seminar Ekoteologi pada Kamis, 6 November 2025, di Pondok Pesantren Al-Qur’an dan Sains (PPQS) Nurani, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Bekerja sama dengan Forum Persaudaraan dan Kemitraan Pesantren Indonesia (PK-Tren), agenda ini diikuti oleh sejumlah pesantren dari Jakarta dan sekitarnya. Tujuannya, memperkuat kapasitas pesantren dalam pengelolaan dan pemberdayaan lingkungan berbasis nilai-nilai Islam atau yang jamak disebut eco-pesantren.
Eco-pesantren merupakan model pendidikan pesantren yang menjadikan nilai-nilai keislaman sebagai fondasi pelestarian lingkungan. Melalui pendekatan ekoteologi yang digaungkan oleh Menteri Agama RI sekaligus Pembina PK-Tren Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA, pesantren diarahkan untuk mengintegrasikan pelestarian alam ke dalam proses pendidikan, pemberdayaan masyarakat, hingga pengembangan ekonomi hijau.
Acara dibuka dengan sambutan Sekjen PK-Tren KH. Tubagus Masnun. Beliau menekankan kontribusi nyata pesantren bagi masyarakat sejak zaman kolonial. Di masa kini di mana muncul tantangan baru bagi pesantren untuk menyikapi isu lingkungan, sinergi pesantren amat dibutuhkan. Menurut beliau, PK-Tren memainkan peran yang sangat vital untuk mengkonsolidasi kontribusi-kontribusi pesantren di Indonesia.
Acara kemudian dilanjutkan dengan pemaparan tiga materi utama. Ust. Lukmanuddin Adiguna, Kepala Sekolah PP Dinamika Ummat, menyampaikan materi pertama mengenai Model SBCS (Sekolah Bersih Tanpa Cleaning Service). Ini merupakan model pendekatan pendidikan yang menanamkan kemandirian santri sekaligus membangun budaya kebersihan yang berkelanjutan.
Ketua PK-Tren sekaligus dosen Fakultas Studi Islam UIII Dr. KH. Ilyas Marwal berkesempatan menjadi pemateri kedua dan memaparkan soal ekoteologi. Beliau menekankan pentingnya menyinergikan maqasid al-syariah, teologi, dan spiritualitas dalam green santri movement. Di tengah persoalan lingkungan seperti sampah, banjir, dan aktivitas tambang yang tidak bertanggung jawab, beliau mengingatkan bahwa Islam mengajarkan spiritualitas dan tasawuf untuk menghindari sikap berlebihan yang dapat merusak alam.
Materi ketiga dibawakan oleh Bhirawa Anoraga, dosen Fakultas Studi Islam UIII. Beliau membahas bagaimana teknologi dapat mendukung gerakan ekoteologi. Dalam pandangannya, pesantren memiliki akar sosial yang kuat, sehingga konten-konten ekoteologi akan lebih mudah viral jika dikaitkan dengan isu keseharian yang dekat dengan masyarakat.
Pada sesi penutup, Dr. KH. Ilyas Marwal menegaskan pentingnya penyusunan kurikulum ekoteologi untuk diterapkan di seluruh pesantren. Beliau menambahkan bahwa meskipun pesantren kadang mendapat sorotan negatif di media sosial, pesantren harus menunjukkan citra positif melalui aksi nyata, salah satunya lewat praktik ekoteologi. Karena itu, beliau menekankan agar seluruh pesantren, apa pun afiliasi organisasinya, bersatu. PK-Tren, menurutnya, adalah platform strategis untuk menunjukkan kontribusi pesantren bagi Indonesia.
Melalui kegiatan ini, UIII dan PK-Tren berharap gerakan ekoteologi semakin mengakar dan menjadi praktik berkelanjutan di lingkungan pendidikan Islam, sehingga pesantren tidak hanya menjadi pusat ilmu agama, tetapi juga pusat pemberdayaan masyarakat dan pelestarian lingkungan.









Leave a Reply