Eipsa Scientia Potestas est. Pengetahuan adalah kekuatan. Klise memang namun kebenarannya tak terbantahkan. Adagium ini tampaknya layak direlasikan dengan kondisi abad pertengahan sebagai “The Golden Age of Science” di mana sebagian besar ilmu pengetahuan digenggam oleh umat Islam. Dinasti Abbasiyah sebagai imperium raksasa kala itu berhasil menjadikan masyarakatnya berperadaban tinggi, unggul, dan produktif. Baghdad sebagai pusat kekuasaan imperium ini menjadi pusat peradaban dunia dan saksi bisu kegemilangan umat Islam pada saat itu.
Hal yang menarik dalam perkembangan peradaban dari abad ketujuh hingga abad ketigabelas ini adalah bagaimana peradaban dan agama yang berasal dari bangsa Arab yang tinggal di gurun pasir yang tandus, terpencil, dan terbelakang itu maju ke depan memimpin revolusi intelektual sehingga pada akhirnya menjadi bangsa kosmopolitan. Ini tentu saja tidak terlepas dari keberanian dan kedinamisan bangsa Arab tersebut keluar dari zona keterbelakangan serta keluasan berpikir yang mendorongnya untuk mengadopsi kebudayaan-kebudayaan klasik yang gemilang di masanya. Kebudayaan-kebudayaan klasik itu kemudian dikolaborasikan dengan nilai-nilai Islam sebagai jati diri mereka hingga melahirkan akulturasi budaya yang luar biasa.
Peran Gerakan Penerjemahan
Penetrasi kebudayaan-kebudayaan klasik seperti kebudayaan Persi, Helenistik, Yunani, Roma, India, dan Cina terhadap kebudayaan Islam sebenarnya tak lepas dari pengaruh ekspansi-ekspansi umat Islam sehingga menyebabkan mereka berinteraksi secara langsung dengan kebudayaan-kebudayaan tersebut. Kebudayan-kebudayaan klasik ini tentu saja meninggalkan karya-karya monumental yang memuat pengetahuan yang berlimpah. Substansi karya-karya itu tentu tidak bisa dibiarkan begitu saja apalagi oleh umat Islam yang notabene sangat memprioritaskan ilmu pengetahuan. Di samping itu, semangat penelitan dan kreatif para cendekiawan Muslim kala itu mulai tumbuh dan membara. Para penguasa memberikan apresiasi dan patronisasi terhadap ilmuwan-ilmuwan Islam yang berhasil menciptakan masterpiece di bidangnya masing-masing. Fakto-faktor inilah yang mendorong akselerasi perkembangan gerakan penerjemahan di era tersebut.
Gerakan penerjemahan merupakan titik tolak kemajuan ilmu pengetahuan pada abad pertengahan. Gerakan ini sudah dimulai semenjak tahun 638 Masehi. Karya-karya monumental seperti Organon dan Magna Moralia karya Aristoteles, Republica karya Plato, Almagest karya Ptholemy, buku- buku kedokteran dari Hipokrates, Galen, Dioscorides, dan ribuan buku lainnya diterjemahkan dengan cepat. Penerjemahan ini kebanyakan ditangani oleh orang-orang ‘ajam seperti kaum Nestorian, Jacobite, Hebrew, Barbar, dan lain-lain. Menariknya, kaum asing ini rata-rata adalah non-Islam namun bersedia menyumbangkan tenaga dan pikiran mereka untuk kemajuan intelektualitas Muslim. Bahkan, Kristen Ortodoks pada saat itu menaruh kebencian yang mendalam terhadap Islam hingga berujung pada Perang Salib. Entitas Islam yang menebarkan kedamaian serta menjunjung tinggi toleransi adalah kuncinya. Bahkan untuk sekte minoritas seperti Nestorian, Islam dianggap sebagai pembebas mereka dari perlakuan diskriminasi kaum ortodoks. Mereka merasa dilindungi oleh Islam dan diberikan posisi yang terhormat di istana Khalifah. Sikap muslim yang pemurah inilah yang pada akhirnya membuka perbendaharaan pengetahuan klasik terhadap pemikiran kreatif di dalam dunia Islam.
Jared Diamond seorang ahli fisiologi ternama UCLA dalam bukunya Guns, Germs, and Steel menandaskan, “ Islam pada abad pertengahan mengalami kemajuan dan menciptakan inovasi dengan cepat. Ia berhasil mencapai tingkat aksara yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Eropa kontemporer. Ia berasimilasi dengan warisan peradaban Yunani kuno pada tingkat di mana banyak buku klasik yang kita ketahui sekarang ini hanya melalui terjemahan Arab.” Ini menunjukkan bahwa gerakan penerjemahan pada abad pertengahan memainkan posisi penting dalam konstelasi peradaban dunia dan berperan penting dalam mewariskan pengetahuan yang berharga kepada generasi-generasi selanjutnya.
Penerjemahan tidak akan terealisasi jika tidak ada yang namanya kertas. Pembuatan kertas merupakan tonggak penting dalam sejarah peradaban manusia di mana kertas menjadi instrumen penting dalam proses transmisi ilmu antar generasi. Bahkan pembuatan kertas layak dianggap sebagai peristiwa paling revolusioner dalam sejarah Islam. Cara pembuatan kertas ini diambil dari tawanan-tawanan Cina yang kalah pada Perang Talas di Kazakhstan. Mereka diberikan fasilitas untuk memperlihatkan keterampilan dalam membuat kertas. Sayangnya, proses pembuatan kertas ini tidak bisa dilanjutkan lantaran tidak ada pohon murbei di Arab. Para pemikir Islam pun memutar otak. Akhirnya sebuah terobosan spektakuler tercipta. Kulit pohon murbei diganti dengan pohon linen, kapas, dan serat. Tak dapat dipungkiri, inovasi ini melahirkan pabrik-pabrik kertas hingga dapat mendongkrak perekonomian masyarakat lewat bidang industri.
Akselerasi industri kertas mau tak mau berpengaruh terhadap bisnis buku. Toko buku berdiri di sepanjang jalan di jantung kota-kota besar. Bisnis ini terus menggeliat seiring dengan meningkatnya animo masyarakat untuk membaca. Konsep ilmu pada akhirnya bertransformasi menjadi sebuah praktik yang benar-benar distributif. Produksi buku dalam skala besar mendorong pembangunan perpustakaan-perpustakaan besar. Konsep perpustakaan modern yang dilengkapi dengan katalog dan observatorium menjadikan perpustakaan sebagai basis pengembangan ilmu pengetahuan. Baitul hikmah sebagai perpustakaan terbesar di Baghdad menjadi destinasi masyarakat intelektual untuk mencari ilmu pengetahuan dan pusat penerjamahan karya-karya asing.









Leave a Reply