Dekolonialisasi pengetahuan menuntut kita melepaskan diri dari warisan kolonial yang masih menancap kuat dalam cara kita memproduksi, menilai, dan menyebarluaskan ilmu. Selama ini, narasi Euro-sentris dijadikan tolok ukur kebenaran universal, sementara tradisi pengetahuan non-Barat sering kali dipandang sekadar folklor atau sekunder. Seperti yang Aníbal Quijano jelaskan, kekuasaan kolonial tidak hanya terjadi di ranah politik dan ekonomi, melainkan juga menanamkan hierarki epistemis yang menempatkan pengetahuan Barat pada posisi dominan dan meminggirkan cara berpikir lokal. Oleh karena itu, dekonstruksi hierarki ini menjadi langkah awal untuk menciptakan ekosistem intelektual yang setara dan adil bagi semua tradisi pemikiran.
Dalam konteks Indonesia dan Asia Tenggara, Dr. Lailatul Fitriyah dari Claremont School of Theology menegaskan bahwa “kondisi kolonial” bukan hanya kenangan masa lalu, tetapi realitas yang terus memengaruhi cara kita memahami teologi dan praktik keagamaan. Melalui risetnya tentang komunitas adat Samin di Pegunungan Kendeng Utara, ia menunjukkan bagaimana tradisi Islam Saminisme menantang ontologi rasionalitas kapitalistik dan patriarkal yang dibawa oleh kolonialisme. Pandangan hidup yang mengedepankan hubungan harmonis dengan “Ibu Bumi” itu menjadi bentuk perlawanan epistemic sekaligus menyediakan sebuah cara berpikir alternatif yang menolak reduksi mereka menjadi sekadar subjek pasif perkembangan modern.
Selanjutnya, Dr. Fitriyah menerapkan kerangka “border thinking” dalam memeriksa ritual-ritual individual diaspora Muslim di Roma, di mana praktik keagamaan eksperimental membuka ruang dialog baru antara tradisi lokal dan konteks global. Pendekatan ini menegaskan bahwa pengetahuan tidak statis, tetapi dinamis; ia dibentuk melalui negosiasi budaya, pertemuan, dan bahkan konflik. Dengan demikian, ritual individu yang muncul di ruang-ruang perbatasan budaya bukan sekadar penyesuaian, melainkan penciptaan epistemologi anti-patriarkal yang menegosiasikan ulang otoritas teologis tradisional.
Empat Pilar Dekolonialisasi Pengetahuan
Beranjak dari kerangka teoretis Quijano dan Mignolo serta contoh empiris Dr. Lailatul Fitriyah, implementasi dekolonialisasi pengetahuan sebaiknya dijalankan melalui empat pilar utama yang saling menguatkan sebagai berikut:
Pertama, penyusunan kurikulum interdisipliner yang menautkan perspektif Barat dengan tradisi lokal,misalnya memasukkan modul teologi kontekstual Indonesia, kajian kosmologi adat, dan epistemologi feminis agar mahasiswa terlatih menilai ilmu dari berbagai sudut pandang, bukan hanya dari perspektif Euro-Amerika (Quijano, 2000; Mignolo, 2000).
Kedua, adopsi metodologi partisipatif di mana masyarakat adat, organisasi keagamaan lokal, dan kelompok minoritas tidak lagi menjadi objek studi pasif, melainkan bertindak sebagai pendamping peneliti (co-researcher) yang mendesain pertanyaan riset, mengumpulkan data, dan menafsirkan temuan bersama akademisi sebuah pendekatan yang selaras dengan prinsip “epistemic justice” yang dikemukakan Santos (2014) dan seperti yang diujicobakan dalam riset Samin oleh Fitriyah.
Ketiga, pembukaan jalur publikasi multibahasa di tingkat nasional dan internasional, misalnya jurnal terindeks yang menerima artikel dalam Bahasa Indonesia, Jawa, atau bahasa masyarakat adat untuk mempersempit jurang akses pengetahuan serta meminimalkan linguistic imperialism seperti dikritik Tiahuhu (2018). Dengan demikian, naskah-naskah penting tidak terperangkap dalam monoglotti akademik Barat, melainkan tersebar luas ke komunitas lokal dan regional.
Keempat, pengakuan langsung terhadap narasi, ritual, dan sistem kosmologis komunitas adat sebagai sumber epistemik yang valid misalnya dokumentasi ritus tani Samin dalam konteks keberlanjutan lingkungan atau ritual doa individual diaspora di Roma membuktikan bahwa cara-cara hidup tradisional memproduksi pengetahuan teruji secara empiris dan filosofis, bukan sekadar warisan folklorik (Fitriyah, 2025; Fitriyah, 2023).
Keempat pilar ini, bila dijalankan secara simultan, akan mengikis anggapan lama bahwa hanya model ilmiah Barat yang sahih, serta membuka ruang bagi ekosistem ilmu yang inklusif, plural, dan berkeadilan di mana setiap tradisi pemikiran memperoleh legitimasi yang setara dalam kawah intelektual global.
Tantangan terbesar sering muncul dari resistensi institusional: universitas dan penerbit akademik yang masih terikat pada standar peer-review konvensional. Di sinilah peran konsorsium riset internasional atau jurnal-jurnal berfokus global-selatan menjadi penting untuk membuka jalur alternatif. Begitu pula, kesenjangan anggaran riset di negara-negara global-selatan harus diatasi melalui beasiswa dan pendanaan bersama, agar para akademisi lokal tidak tertinggal dalam memproduksi pengetahuan kritis.
Akhirnya, dekonstruksi bias epistemis melalui pelatihan kritik epistemik bagi mahasiswa dan dosen membantu kita mengungkap asumsi bawah sadar yang masih mengekang pemikiran bebas. Ketika kerangka Euro-sentris digantikan oleh ruang-ruang dialog antar-episteme, lahirlah wacana baru yang lebih kaya, inklusif, dan adil. Dekolonialisasi pengetahuan bukan sekadar tren akademik, melainkan mandat etis untuk memulihkan martabat tradisi pemikiran terpinggirkan dan menciptakan ekosistem intelektual inklusif.
Melalui teori Quijano dan Mignolo, serta contoh konkret dari riset Dr. Lailatul Fitriyah mulai dari komunitas adat Samin hingga diaspora Muslim, kita melihat bahwa dialog antar-episteme di ruang perbatasan membuka kemungkinan pengetahuan yang lebih adil. Upaya ini tentu saja perlu didukung dengan perubahan kurikulum, penggunaan metode partisipatif, publikasi multibahasa, dan penghargaan pada epistemologi pribumi, serta diakhiri dengan penguatan jaringan riset negara-negara selatan untuk mengatasi kendala institusional dan pendanaan.
Referensi
- Quijano, A. (2000). Coloniality of power, Eurocentrism, and Latin America. Nepantla: Views from South, 1(3), 533–580.
- Mignolo, W. (2000). Local Histories/Global Designs: Coloniality, Subaltern Knowledges, and Border Thinking. Princeton University Press.
- Claremont School of Theology. (2025). Faculty Profile: Lailatul Fitriyah. (Diakses 25 Juli 2025).
- Fitriyah, L. (2025). Islam/Saminism Against Racial Capitalism: Confronting Coloniality of Being in North Kendeng Mountains. Makalah dipresentasikan pada AAR Annual Meeting.
- Fitriyah, L. (2023). Two Strangers in the Eternal City: Border Thinking and Individualized Emerging Rituals as Anti-Patriarchal Epistemology. Religions, 14(1), 29.
- Santos, B. de S. (2014). Epistemologies of the South: Justice Against Epistemicide. Routledge.
- Tiahuhu, P. (2018). “Linguistic Imperialism and Academic Publishing in Indonesia.” Jurnal Linguistik Terapan, 12(2), 45–60.







Leave a Reply